17.12.11
Waktu
19.11.11
Manusia, Penguasa dan Serigala
8.9.11
Anak Dari Rentetan Kejadian
Rindu begitu ajaib seakan menggerogoti isi kepalaku setiap kali aku melihatnya. Sampai aku tersadar ketika kepalaku telah kosong dan semuanya hanyalah pengulangan-pengulangan.
Rindu lahir dari rasa dan komitmen bersama segala perjuangannya. Lalu terdampar karena seharusnya dia tidak ada. Mungkin Rindu hanya tercipta tidak diciptakan.
Aku tak mau disalahkan atas Rindu. Tak pula berani menyalahkan Tuhan.
Mungkin tidak ada yang salah atau memang tidak semua hal yang suci selalu ada gunanya
Hei Rindu, Kalau aku harus tinggalkan kamu di sini, Di tempat di mana kamu ditemukan, rasanya percuma. Kamu akan terbawa denganku ke mana saja.
Hei Rindu, tali sepatuku sudah terikat, jadi kamu harus mati. Aku carikan ibu untukmu lalu bereinkarnasilah kamu.
22.1.11
Selamat tinggal itu sulit
Karena dulu kita memanggil kekasih kita dengan panggilan yang sama.
Kekasihku pun paling cantik di dunia.
Tuhan menjanjikan keturunanmu sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai.
Tapi rasanya tidak denganku.
Tidak dengannya.
Katakan padaku, Abraham.
Apakah selamat tinggal memang kesulitan yang tak terpecahkan?
18.8.10
Di Bangku Taman
Pemuda itu tak bergeser menjauh ketika pemudi itu duduk di bangku taman yang sama.
Pemuda itu memandangi pemudi yang baru duduk di sebelahnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dari tiara yang menyembul dibalik rmabut gelap nan tebal, untaian berlian yang menggantung di lehernya, kain impor yang membungkus seluruh tubuhnya dan kuku kaki yang dicat rapi berwarna kemerahan.
Pemudi itu melakukan hal yang sama. Namun hanya melirik. Sejenak pemudi itu terpaku pada rubik yang terus berputar di tangan pemuda mencari pasangan warna yang sesuai.
Pemudi itu kemudian menoleh ke belakang dan tersenyum menikmati beberapa orang dengan jas dan dasi membawa koper berisi jutaan dollar sambil menari dengan payung kecil.
Pemuda itu bertanya "kamu suka?"Pemudi itu menoleh sedikit lalu kembali menikmati tarian orang-orang berjas tersebut. Lalu menjawab "Ya, bukankah itu sangat menyenangkan. Lihat kini mereka membuka kopernya dan menaburi kepala mereka dengan dollar sambil menari."
"Ya, mungkin.. Tergantung.." Pemuda itu menanggapi. Matanya tak lepas dari rubik.
"Aneh, kamu ada di sini, tapi tidak tertarik dengan mereka" kini pemudi itu memiringkan tubuhnya dan menatap serius pemuda itu.
"Aku suka menari, tapi tanpa sepatu. Rasanya lebih nyaman jika bersentuhan dengan rumput. Membuatu tergelitik sehingga tarianku lebih atraktif" pemuda itu sedikit tersenyum memandang sejenak si pemudi yang mulai berkerut dahinya.
"Bagaimana bisa kamu hidup tanpa sepatu?" Pemudi itu bertanya.
"Aku tak bilang hidup tanpa sepatu. Hanya ketika menari atau sedang duduk seperti ini saja. Aku sesekali pakai sepatu ketika berbaur dengan massa"
Pemudi itu tampak semakin tidak mengerti. "Menari sendiri? Karena kamu berbeda dengan mereka."
"Tapi aku tak pernah berhenti, tak mau berhenti setidaknya." Pemuda itu menjawab singkat
"Maksudmu?" Pemudi itu kembali bertanya.
Pemuda itu berhenti memutar rubik dan memiringkan badannya berhadapan dengan si pemudi. "Lihat mereka sekarang"
Orang-orang dengan jas dan dasi itu kini menari lemas, senyumnya terbalik. Kopernya telah kosong. Seketika mereka sadar isi kopernya telah berhamburan. Mereka serentak tersentak. Mulai memunguti dollar, lalu berebutan, masing-masing mengakui dollar-dollar tersebut adalah miliknya.
"lalu apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini?" Si pemudi bertanya.
"Menunggumu sambil menyelesaikan rubik." pemuda itu lalu memberikan rubik kepada si pemudi
"Kamu boleh menyimpannya kalau mau. Aku tak begitu suka rubik. Aku hanya menyelesaikan nya untukmu."
7.7.10
Sebanyak ini
Sebanyak Johnny Rico membawa pasukan armada star fleet menyerang arachnid di planet kendalu
Tapi aku tak mau salah langkah seperti 100.000 prajurit mereka yang gugur pada serangan pertama
Sebanyak ini tampaknya tidak akan menguap di udara walaupun mungkin tak pernah sampai ke sana
Sebanyak ini akan jadi sia-sia..
Katakan padaku Abraham, apa yang kau lakukan saat dia tak lagi bicara?
10.4.10
Anak Gadis
Selang sekian waktu yang tidak begitu lama, anak gadis itu datang. Duduk menemaniku menyatukan kepingan sekecil biji zahra, memandangi dengan mata besar dan senyum begitu lebar
Sesekali dia bicara soal apa saja yang menarik baginya. Kemudian bicara lagi. Lalu lagi dan lagi
Mulanya konsentrasiku buyar, karena ratusan kepingan sekecil biji zahra butuh hitungan yang tepat dengan rumus aljabar yang paling rumit, tapi anak gadis yang kian manis senyumnya tidak menipis walau sedikit
Anak gadis itu mulai mencurigakan atau memang anak gadis walaupun manis tetaplah anak gadis yang menyebalkan. Yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berpikir terbuka, tidak bisa menghargai apa yang jadi miliknya dan tentu saja konformis
Atau mungkin aku saja yang traumatis...
Anak gadis yang kian manis belum beranjak. Memandangi dengan mata besar dan senyum begitu lebar
Aku bukan apatis, aku hanya sedang bergelut dengan waktu
Masih banyak yang harus kita bicarakan, tak apa kalau tak sabar menunggu, semoga anak gadis itu mengerti kita semua berpacu dengan waktu
cepatlah sembuh anak gadis yang kian manis
6.3.10
#nowplaying Iwan Fals - Sarjana Muda

14.10.09
Bangga dengan apa yang kita punya, percaya bahwa kita bisa
Ribuan jargon anti Malaysia mengaum keras seperti gaung "Ganjang Malaysia" pada era orde lama. Klaim Malaysia terhadap batik, keris, tari pendet, reog ponorogo dan perebutan pulau ambalad membuat rakyat Indonesia geram.
Ketika itu semangat nasionalisme tiba-tiba mengalir deras dalam darah orang Indonesia serta rasa cinta tanah air bangkit dari tidur panjang yang termanifestasikan dalam ribuan pesan twitter. Sangat lumrah bila perlawanan muncul ketika diserang.
Tapi kenapa tunggu diserang? Kenapa diserang? Saya tidak begitu bersemangat memaki malaysia dan saya pun tidak menyalahkan Malaysia sepenuhnya. Sebelum Malaysia mengambil alih budaya kita apakah terlintas di benak kita tentang batik, keris, tari pendet dan reog ponorogo? Asal-usulnya, cara membuatnya, bentuknya, rasanya? Kita pasti mengenal itu semua tapi apakah terlintas di benak kita sehari-hari?
Ketika kita sibuk mengoleksi Nike SB dan sneakers limited lainnya, ketika tidak perlu repot-repot membawakan tas Louis Vuitton pacar kita karena dia sangat bangga membawanya sendiri, ketika menjadi hedon dan berlakon seperti Kimora atau ketika kita sekedar bercengkrama sambil menikmati Burger King, Malaysia mengambil alih budaya kita lewat Discovery channel, video cara membuat keris yg bisa didapatkan di museum di sana dan dengan tagline truly asia yg seakan membuat Malaysia lebih kredibel sebagai "asia" dibanding Indonesia yang kaya akan budaya. Akuilah bahwa kita semua kebarat-baratan.
Kalau milikmu dicuri, jangan hanya menyalahkan si pencuri.
Coba renungkan, mungkin kamu memberikan kesempatan bagi si pencuri karena kamu tampak tidak begitu peduli dengan milikmu. Sama seperti Malaysia, mungkin mereka melihat celah dari ketidakpedulian kita terhadap budaya kita sendiri. So buy local, eat local, act local. Be proud.
11.7.09
Some things are just the truth
some things are just the truth. like how the sky is blue. -with honor-
6.7.09
Iklan pilpres yg menggugah hati
Penggunaan representatif yang tepat, copywriting yang menggugah, art directing yang dramatis, kepada target audiens yang tepat. Kalau kamu dari golongan putih dan iman kamu nggak cukup kuat, mungkin tempat pemungutan suara akan menjadi tujuan kamu berikutnya.
iklan ini cukup membuat saya kaget dan sejenak berpikir, apakah calon presiden yg satu ini benar-benar... yaiyo!?
Kalau aku presi, presiden di sini
Aku akan, yaiyo iya iyo
Kalau ada orang, iseng menantangku
Aku akan, yaiyo iyaiyo
Kalau aku, jadi presiden, aku akan, dan tak akan, tapi akan, yaiyo iya iyo
-Sujiwo Tejo, Yaiyo-
7.6.09
Ketika terlalu banyak hal berpotensi membangkitkan kenangan
Aku menarik nafas agak dalam. Setelah beberapa kali, tercium wangi yang sangat khas. Wangi yang sangat akrab dengan hidungku. Aku mencium wangi rambutnya, kemudian wangi tubuhnya yang bercampur dengan wangi pengharum pakaian pada piyamanya. Aku merasakan tanganku di punggungnya dan dahiku di lehernya ketika kepalanya mendongak ke atas dan dagunya mengapit kepalaku. Agaknya aku belum sampai pada tahap Rapid Eye Movement (REM), tahap dalam tidur di mana biasanya kita bermimpi. Tapi... Ah! aku tak tahan begini. Aku keluar dari selimut dan menyalakan lampu. lampu gelap selalu mengingatkanku padanya. Dia biasa tidur gelap gulita sedangkan aku biasa dengan lampu menyala.
Aku menyusuri jalanan sepi, tak banyak kendaraan hanya beberapa motor yang kadang tanpa lampu baik depan maupun belakang. Tiba tiba aku rindu dia menggigit gemas lenganku ketika kami berdua di dalam mobil, kemudian menunjukkan giginya yang besar seperti kelinci tapi tersusun rapi. Lalu dia bilang '' I really love to bite!'' sambil mematuk-matukkan gigi atas dan bawahnya. Wajahnya sungguh kekanak-kanakan. Biasanya aku merintih kesakitan dan memaksanya berhenti tapi aku sebenarnya sangat senang. Ah! aku tak tahan begini. Rasa yang mungkin tak akan pernah aku dapatkan lagi.
Aku mendapatkan diriku termenung menyaksikan beberapa episode terakhir serial kartun Avatar. Episode ketika Aang melakukan invasi ke kerajaan api. Katara, salah satu karakter dalam kartun avatar, ketika itu dia menggerai rambutnya yang biasanya selalu diikat. Rambut yang hitam dan panjang tampak sangat terurus, kulitnya yang coklat dan matanya yang besar. Figur yang sungguh mirip dengannya. Ah! aku tak tahan begini. Bahkan film kartun pun mengingatkanku padanya.
Aku ke meja kerjaku dan menghidupkan komputer. Deadline masih seminggu tapi tak tau lagi mau apa. Sambil menunggu sebuah situs selesai loading aku biasa membuka-buka folder tanpa tau apa yang dicari. Sampai kepada folder foto. Mataku tertuju kepada satu foto. Fotoku dan dia hanya setengah badan tanpa kepala, rambutku masih panjang kala itu. Ya, itu adalah foto aku dan dia pertama kali. aku dan dia duduk bersebelahan, yang terlihat hanya gambar pada baju kami. Ada simbol anarki di bajuku yang berdasar hitam, dan bajunya putih bergambar mata dan bibir berwarna merah. entah kenapa aku sangat menyukai foto itu. Kami berdua tampak sangat kontras, dia yang terkesan manis dan aku yang dia sebut dengan berandalan, tapi seperti saling menyayangi. Foto pertama kami itu diambil baru setelah 3 bulan kami bersama, saat-saat di mana aku baru benar-benar berani menggenggam tangannya. Saat-saat itu adalah awal kemesraan kami.
Aku merasakan seseorang mencengkram leherku dari samping. Tapi aku tidak tersentak karena saat itu pula aku menyadari aku tidak menutup pintu dan aku tahu itu tangan seorang teman. Dia bilang "maaannn...you got to stop!" lalu dia mengangkat tangannya ke depan wajahku. Aku melihat air mataku yang menetes di pipi jatuh ke tangannya. Dengan sedikit malu suaraku parau "I miss her a lot..."
20.5.09
Aku mapan aku kaya
Coba liat profesi-profesi yang saya sebutkan tadi, samain sama pendapat kakek nenek kalian, kurang lebihnya akan sama. Babe sama kakek nenek kita sama-sama hidup di jaman Belanda, dan profesi yang disandang bos-bos Belanda jaman dulu ya profesi-profesi di atas itu. Pernah nggak kalian denger cerita atau baca di buku sejarah, orang Belanda hebat pas jaman penjajahan dulu yang kerjanya desainer grafis? Atau jurnalis? Sutradara? Public relation officer? Programmer? Film publicist? Account executive? Nggak ada kan.. karena memang belum ada... mungkin ilmu dasarnya ada tapi masih sangat general belum se-spesifik sekarang.
9.5.09
Hati yang militan, otak yang diplomatis
Hati bergerak menembus batas. Gengsi, perih, malu, akal sehat menurut standarisasi sehat yang diamini dunia. Tidak seperti otak yang mengenal berpolitik, cari celah, tarik ulur, perhitungan matematis rasional, opini populer.
Sebuah pamflet demonstrasi para anarkis yang mengkritisi demokrasi bertuliskan "whoever you vote for, we are ungovernable" Itulah hati, tidak dapat diperintah selayaknya para anarkis. karena hati tidak mengenal perintah untuk memihak pada benar atau salah, baik atau buruk, untung atau rugi. Hati hanya mengerti berbagi
Seseorang berkata, "saya tidak akan memberikan hati saya sepenuhnya padamu. Karena ketika nanti sesuatu yang buruk terjadi pada kita, aku tidak bisa mengambilnya kembali."
Sekarang aku pun berpikir begitu, kali ini hati yang akan merugi. Oh, tapi tidak. Hati tidak kenal untung rugi, hati hanya ingin memuaskan dirinya sendiri.
Ah, kalau begitu yang kita butuhkan adalah intuisi. Sinergi antara pikiran dan perasaan, koalisi antara otak dan hati, pertautan antara pengetahuan dan emosi.
Saya telah memberikan hati sepenuhnya. kini otak tak berfungsi dan hati tak bisa kembali. Tubuh ini yang akhirnya jadi korban. Tubuh ini yang akhirnya kelelahan.
Seandainya aku memberikan sepenuhnya dan kamu memberikan sepenuhnya. Maka ini adalah intuisi. Komitmen untuk berbagi. Karena hati hanya mengenal berbagi
26.3.09
Babes on the beach
Well, i was on a short trip to anyer (or carita) with few friends from college that day. I met these two little girls, Kartika and.. ah shit i forgot.. oh yea, mirna.. Kartika and mirna.
Di pantai sekitar cottage, mereka berjualan shampoo sachet-an dan plastik untuk baju kotor para penyewa cottage. Plastik baju kotor, sebuah barang yang agak aneh bila dijadikan komoditi tapi sangat sangat diperlukan oleh penyewa cottage di sana. Pasti banyak banget orang yang lupa bawa plastik baju kotor atau buat bungkus sendal yang udah penuh pasir. The right product on the right place. Bisa-bisa mereka nggak mau sekolah lagi gara-gara dagangannya laku. Yeap, another picture of low class citizens yang harus bekerja membantu menjaga dapur ibu tetap ngebul.
Setiap saya keliling pantai dengan kamera, entah kenapa mereka selalu ada, terus minta foto. "bang angga foto dong.. bang angga foto dong.." dan mereka bergaya centil nan sexy mencoba menyaingi Aura Kasih. Abis difoto terus ngeliat hasilnya udah bikin mereka senang ketawa cekakak cekikik terus minta foto lagi. Mereka nggak minta dicetak apalagi minta di tag di facebook...
senangnya bikin anak pantai senang..
9.3.09
Sekolah Paud Bintang
majalah segaris, 1 maret 2009 (www.majalahsegaris.com)
Garasi rumah adalah ruang kelas dan halaman rumah adalah taman bermain mereka. Sekolah Paud Bintang memberikan memberikan fasilitas kepada anak-anak kurang mampu dengan bimbingan belajar dan bermain.
Pada awalnya sekolah Paud Bintang merupakan program kelurahan Cilandak timur untuk memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak warga sekitar yang kurang mampu. Ibu Anna, psikolog yang sudah tidak lagi mempuyai anak kecil kini kebanjiran anak-anak setiap harinya. Di rumahnya, kini tak hanya anak-anak dari warga sekitar, tapi bahkan anak-anak dari para pemulung yang beroperasi di sekitar rumahnya pun menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Paud Bintang.
Antara ijazah palsu, ketombe, dan Jean Cassegrain
Malam ini ada perbincangan dengan seorang teman di messenger, seorang teman yang jarang bertemu, tidak cukup mengenal, tapi dia sangat ramah dan selalu tersenyum lebar. sangat ceria. perbincangan mulai seru saat saya menanyakan mengenai dia yang ingin membuat ijazah SMA palsu.
teman : Hallo
Btskhyl : oiii
teman : siapa?
Btskhyl : apanya?
teman : elo siapa, gua nggak apal semuanya nih
Btskhyl : angga iniii
teman : oohh haii, kapan kita kumpul-kumpul?
Btskhyl : every weekend i'm ready laah
teman : sipp
Btskhyl : gimana ijazah lo? jadi?
teman : gak tau nih, nggak dibikinin kayanya. kalo ada kerjaan kabar-kabari doong
Btskhyl : lo buat ngelamar-lamar gitu ya? sipp dah kalo ada
teman : iya nih
Btskhyl : eh, kalo lo ngelamar-lamar gitu si X diajak doong
teman : yaa kerjanya di tempat yang pendapatannya kecil, soalnya takut ketauan ijazah palsu
Btskhyl : ya gpp, abis dia suka mood-moodan gitu siih
teman : heh, dia mah udah cukup kali. kalo gua udah stress nihh
Btskhyl : cukup emang ga bisa abis. bisa kaaan. emang lo rencana gimana sekarang?
teman : mati. kalo gak dosa
Btskhyl : halaahhh. kok patah semangat sih, lo kan orang paling semangat di dunia heheheha
teman: iya tau nih ngga, gua lagi kepikiran nyokap yang di (salah satu daerah di jawa barat), pengen ke sana tapi mesti punya X juta buat bayar utang
Btskhyl : siapa yang punya utang, elo? apa nyokap?
teman : gue utang ke nyokap
Btskhyl : jadi lo ga mau ke sana karena punya utang gitu?
teman : iya, waktu itu pinjem X juta pas mau pindah ke sini tinggal sama keluarga baru, buat usaha. tapi uangnya abis ga tau ke mana
(teman saya ini anak jalanan sejati, nggak punya rmah dan keluarga yang tetap. waktu pertama kali kenal aja saya tanya "nyokap bokap lo tinggalnya nggak sama elo? trus dia jawab "wah! kalo nyokap sih gua ada banyak!" terus saya ngakak keheranan)
Btskhyl : trus dia nagih gitu?
teman : sodara2nya. karena gua bukan kandung. tau deh nih, makanya mau cari uang melalui kerja
Btskhyl : ooh iya iya
teman : off
Btskhyl : ha? oh. oke deh, eh mau ke mana lagi lo?
tiba tiba si teman offline
sempat terlintas untuk memberikan pinjaman uang tapa deadline, tapi takut disangka menghina...
menurut kacamata saya dia orang yang sangat independen, sehingga tidak perlu pusing-pusing pikir uang buat ini itu, tinggalnya saja di rumah teman-temannya, saya sendiri nggak begitu tahu bagaimana sistematika hidupnya dia sehari-hari. yang jelas dia masih survive sampai sekarang. tapi ternyata dia sedang kebingungan mencari uang untuk bayar utang kepada salah satu ibunya.
saya jadi berpikir. Pertama, saya masih lebih beruntung punya ijazah asli, ibu yang hanya satu, rumah sendiri, dan tabungan untuk hadiah ulang tahun pacar saya. Dia yang selalu tersenyum, yang sepertinya tidak pernah mengeluh kecuali soal ketombe saat saya tanya kenapa dia memangkas habis rambutnya, ternyata sekarang berbingung-bingung mencari kerja untuk sejumlah uang untuk bayar utang kepada salah satu ibunya, sampai mau mati kalau nggak dosa. sedang saya menyimpan sejumlah uang untuk sebuah longchamp yang katanya paling murah. merasa bersalah... sial.
Seandainya nggak ada hutang... seandainya Jean Cassegrain tidak mendirikan longchamp...
Budi dan Tiran
Menyilang lengan di dada tak peduli menginjak budi yang tak mampu lagi berdiri.
Si tiran lahir dalam balutan bedong egoisme membesarkan embrio yang tak kenal hati selain miliknya sendiri.
Kemenangan telah terkepal, budi dan revolusi bak pemimpi dan impian yang terpisah jarak sejak tangisan pertama.
Lensa mata si tiran akan kondisi berbalik arah dengan tatapan mata budi, mengais belai lembut karena tak ada lagi bisa menuai benih padi.
Si tiran mencengkram budi sampai ke dalam hati, membelenggu dengan senyum manis dan seperti janji laki-laki untuk selalu menari.
Membusungkan dada berarti kiamat bagi budi.
tamparan keras membinasakan seketika nyali untuk mematok harga tinggi.
Si tiran baru blajar berdiri, budi sudah mengerti berbagi.
Belajar memeluk individualisme berkuasa sedangkan mengerti karena hidup bersama.
Budi merangkak dalam air matanya sendiri mencari nyali untuk berdiri.
Menantang mengembalikan kesetaraan, menantang nada tinggi tanpa retorika sama sekali.
Budi diam menantang Si Tiran merindukan anggukan kepala.
Egois mungkin hanya sepatah atom dari sifat sang Tiran, tapi menjadi viagra untuk membuat sekelas dengan gravitasi.
Fluktuasi suasana hati menjadi orbit Budi bagai planet mengitari matahari.
Menantang gravitasi berarti tidak memijak bumi.
Menolak mentah genggaman tangan Si Tiran berarti hilang kendali.
Walau bahwa setiap diri adalah yang berhak atas kendali.
Bajingan! Budi masih terbuai.
Fast food, faster than nutrition
Pernah ada seorang teman yang sempat mengklaim dirnya pembenci fast food. Menurutnya fast food merupakan senjata industri-industri kapitalis yang notabene adalah the most hated buatnya, ditambah lagi keinginan besarnya untuk menjadi vegetarian karena sepertiya dia terlalu peduli dengan keberadaan makhluk hidup kelas kedua di bumi yaitu hewan tapi tetap masih tidak bisa melepaskan dirinya dari godaan sate kambing dan sop buntut. Entah apa sekarang dia masih se-politis itu terhadap fast food. Saya lama tidak bertemu lagi dengannya.









