Labels

Showing posts with label bedtime stories. Show all posts
Showing posts with label bedtime stories. Show all posts

17.12.11

Waktu

Tenang,
Ini semua hanya soal waktu..
Kebetulan saja ini bukan waktunya..


Aku percaya itu. Sedikit. Mungkin semesta sengaja memberikan kita selang waktu untuk berpikir dan menerka apa yang sekiranya akan tejadi kalau nanti kita benar-benar bertemu. Waktu untuk mengenali, mengamati dan menemukan apa yang sebenarnya ada di balik kita.

Aku suka dengan konsepmu. Kelas menengah yang sederhana namun mampu mengejar terang benderang dan binalnya ibukota. Konsep yang hampir punah di zaman ini. Aku memang cari yang seperti itu.

Lalu berarti semua soal waktu? Waktu itu mainstream. Kami mengikuti karena tatanan waktu dalam setiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun telah diamini oleh semua orang. Begitu juga dengan siang adalah saat produktif dan malam adalah sebaliknya. Siapakah yang berani melawan waktu selain pengidap insomnia dan hewan nocturnal?

Waktu pun menjadi harap ketika kita berkata 'mungkin belum waktunya' atau 'biarkan waktu yang bicara'. Harap menjadi tunggu. Tunggu menjadi bisu. Bagaimana bila memang waktunya tidak ada? Pantaskah kita berharap lalu menunggu dan membisu? Selemah itukah kita sampai harus bergantung pada waktu?

Tinggalkan setiap momen kegagalan. Jangan kamu bawa itu sebagai persembahan kepada siang dan malam. Tancapkan prasasti tanda kamu telah lalui dan kuasai itu. Supaya mereka tahu. Dan jangan kembali kecuali semesta membawanya kepadamu.


***


Denting sendok dan garpu mengisi kesunyian di antara kebisingan akhir pekan yang terdengar seperti noise dalam siaran radio. Sepertinya kita mengalamai kekesalan yang sama. Kesal dengan jarum jam yang bergerak lebih cepat dari seharusnya. Ini bukan belum waktunya. Ini soal salah waktu.

Detik tidak akan berputar terbalik dan waktu tak bisa kembali. Tapi di depan sana, ketika semesta berpihak pada rasa, kita bisa bertemu lagi. Jangan pikirkan. Tugas kita berjalan, biar alam yang tentukan.

19.11.11

Manusia, Penguasa dan Serigala

Kalian semua sebenarnya serigala.
Tapi karena terlalu patuh, kalian jadi anjing.

Serigala adalah binatang yang kuat, cepat dan pemburu hebat. Serigala hidup dalam kawanan yang dipimpin oleh sepasang serigala dominan disebut alpha-male dan alpha-female. Mereka sangat setia kepada sesama dalam kawanan.

Dulu ketika masih purba, serigala tinggal di pinggir perkemahan manusia demi mendapatkan sisa hasil buruan manusia. Mungkin serigala berpikir, daripada susah-susah berburu lebih baik menunggu. Makan makanan sisa.

Bukan hanya manusia yang memberi keuntungan pada serigala, tapi juga sebaliknya. Lolongan serigala yang tinggal di pinggir perkemahan menjadi semacam alarm bagi manusia jika ada bahaya datang seperti kehadiran binatang buas. Beruang, gajah, atau mungkin ogre.

Singkat cerita, lolongan serigala membuat manusia penasaran. Ketika manusia keluar dari kemah dengan senjata seadanya, serigala itu terlihat tertatih dari balik pohon rimbun dan terluka di sekujur tubuh. Lalu tersungkur kehilangan nyawa.

Manusia merasa iba. Serigala yang memberikan alarm bahaya bagi manusia, mati diterkam bahaya itu sendiri. Terlebih lagi, anak-anak serigala itu kini kehilangan induknya.

Hormon oksitosin kemudian mendorong naluri keibuan manusia untuk tak ragu merawat anak-anak serigala. Seiring waktu, mereka tumbuh besar dalam asuhan manusia. Manusia hanya memelihara anak serigala yang patuh dan menyingkirkan yang sulit diatur.

Evolusi mulai bicara, serigala yang hidup dalam asuhan manusia berevolusi menjadi apa yang disebut dengan proto-dog sampai akhirnya menjadi anjing yang kita kenal sekarang.

Baik serigala, proto-dog maupun anjing pada akhirnya digunakan manusia untuk membantu manusia berburu. Karena memiliki sifat setia, serigala pun menyerahkan hasil buruan kepada manusia seperti halnya mereka berbagi hasil buruan dengan kawanan. Ya, serigala menganggap manusia bagian dari kawanan mereka. Lalu manusia memberikan sisa makanan kepada serigala.

Cerita tersebut memiliki kesamaan dengan hidup manusia modern. Hubungan manusia dengan manusia yang lebih dominan. Hubungan rakyat dengan penguasa.

Rakyat hidup bergantung kepada penguasa. Yang bagi rakyat adalah makanan, bagi penguasa adalah sisa.

Rakyat seringkali memperingatkan penguasa akan bahaya. Kemiskinan, kelaparan, kerusakan lingkungan, tapi rakyat pula yang menjadi korban bahaya tersebut.

Penguasa merawat rakyat sedemikian manis, mengasuh yang patuh dan menyingkirkan yang sulit diatur.

Penguasa menggunakan rakyat untuk bekerja, mengakomodir seluruh kebutuhan mereka dan memberikan sisa keuntungan mereka yang biasa kita sebut upah.

Tetaplah menjadi serigala, Kawan.

8.9.11

Anak Dari Rentetan Kejadian

Dia bernama Rindu. Yatim piatu yang ketika tiga tahun lalu kutemukan terbaring bersama secarik kertas bertuliskan 'anak dari rentetan kejadian'

Rindu begitu ajaib seakan menggerogoti isi kepalaku setiap kali aku melihatnya. Sampai aku tersadar ketika kepalaku telah kosong dan semuanya hanyalah pengulangan-pengulangan.

Rindu lahir dari rasa dan komitmen bersama segala perjuangannya. Lalu terdampar karena seharusnya dia tidak ada. Mungkin Rindu hanya tercipta tidak diciptakan.

Aku tak mau disalahkan atas Rindu. Tak pula berani menyalahkan Tuhan.
Mungkin tidak ada yang salah atau memang tidak semua hal yang suci selalu ada gunanya

Hei Rindu, Kalau aku harus tinggalkan kamu di sini, Di tempat di mana kamu ditemukan, rasanya percuma. Kamu akan terbawa denganku ke mana saja.

Hei Rindu, tali sepatuku sudah terikat, jadi kamu harus mati. Aku carikan ibu untukmu lalu bereinkarnasilah kamu.

22.1.11

Selamat tinggal itu sulit

Kau tahu kenapa aku sering bertanya padamu?
Karena dulu kita memanggil kekasih kita dengan panggilan yang sama.
Kekasihku pun paling cantik di dunia.

Tuhan menjanjikan keturunanmu sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai.

Tapi rasanya tidak denganku.
Tidak dengannya.

Katakan padaku, Abraham.
Apakah selamat tinggal memang kesulitan yang tak terpecahkan?

18.8.10

Di Bangku Taman

   

Pemuda itu tak bergeser menjauh ketika pemudi itu duduk di bangku taman yang sama.

Pemuda itu memandangi pemudi yang baru duduk di sebelahnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dari tiara yang menyembul dibalik rmabut gelap nan tebal, untaian berlian yang menggantung di lehernya, kain impor yang membungkus seluruh tubuhnya dan kuku kaki yang dicat rapi berwarna kemerahan.

Pemudi itu melakukan hal yang sama. Namun hanya melirik. Sejenak pemudi itu terpaku pada rubik yang terus berputar di tangan pemuda mencari pasangan warna yang sesuai.

Pemudi itu kemudian menoleh ke belakang dan tersenyum menikmati beberapa orang dengan jas dan dasi membawa koper berisi jutaan dollar sambil menari dengan payung kecil.

Pemuda itu bertanya "kamu suka?"Pemudi itu menoleh sedikit lalu kembali menikmati tarian orang-orang berjas tersebut. Lalu menjawab "Ya, bukankah itu sangat menyenangkan. Lihat kini mereka membuka kopernya dan menaburi kepala mereka dengan dollar sambil menari."

"Ya, mungkin.. Tergantung.." Pemuda itu menanggapi. Matanya tak lepas dari rubik.

"Aneh, kamu ada di sini, tapi tidak tertarik dengan mereka" kini pemudi itu memiringkan tubuhnya dan menatap serius pemuda itu.

"Aku suka menari, tapi tanpa sepatu. Rasanya lebih nyaman jika bersentuhan dengan rumput. Membuatu tergelitik sehingga tarianku lebih atraktif" pemuda itu sedikit tersenyum memandang sejenak si pemudi yang mulai berkerut dahinya.

"Bagaimana bisa kamu hidup tanpa sepatu?" Pemudi itu bertanya.

"Aku tak bilang hidup tanpa sepatu. Hanya ketika menari atau sedang duduk seperti ini saja. Aku sesekali pakai sepatu ketika berbaur dengan massa"

Pemudi itu tampak semakin tidak mengerti. "Menari sendiri? Karena kamu berbeda dengan mereka."

"Tapi aku tak pernah berhenti, tak mau berhenti setidaknya." Pemuda itu menjawab singkat

"Maksudmu?" Pemudi itu kembali bertanya.

Pemuda itu berhenti memutar rubik dan memiringkan badannya berhadapan dengan si pemudi. "Lihat mereka sekarang"

Orang-orang dengan jas dan dasi itu kini menari lemas, senyumnya terbalik. Kopernya telah kosong. Seketika mereka sadar isi kopernya telah berhamburan. Mereka serentak tersentak. Mulai memunguti dollar, lalu berebutan, masing-masing mengakui dollar-dollar tersebut adalah miliknya.

"lalu apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini?" Si pemudi bertanya.

"Menunggumu sambil menyelesaikan rubik." pemuda itu lalu memberikan rubik kepada si pemudi

"Kamu boleh menyimpannya kalau mau. Aku tak begitu suka rubik. Aku hanya menyelesaikan nya untukmu."

7.7.10

Sebanyak ini

Semua pasti tahu, aku punya sebanyak ini untuknya

Sebanyak Johnny Rico membawa pasukan armada star fleet menyerang arachnid di planet kendalu

Tapi aku tak mau salah langkah seperti 100.000 prajurit mereka yang gugur pada serangan pertama

Sebanyak ini tampaknya tidak akan menguap di udara walaupun mungkin tak pernah sampai ke sana

Sebanyak ini akan jadi sia-sia..

Katakan padaku Abraham, apa yang kau lakukan saat dia tak lagi bicara?

10.4.10

Anak Gadis

ketika itu aku sedang memunguti kepingan satu per satu untuk menjadikannya kembali menjadi satu atau entah menjadi apa... Belum aku pikirkan

Selang sekian waktu yang tidak begitu lama, anak gadis itu datang. Duduk menemaniku menyatukan kepingan sekecil biji zahra, memandangi dengan mata besar dan senyum begitu lebar

Sesekali dia bicara soal apa saja yang menarik baginya. Kemudian bicara lagi. Lalu lagi dan lagi

Mulanya konsentrasiku buyar, karena ratusan kepingan sekecil biji zahra butuh hitungan yang tepat dengan rumus aljabar yang paling rumit, tapi anak gadis yang kian manis senyumnya tidak menipis walau sedikit

Anak gadis itu mulai mencurigakan atau memang anak gadis walaupun manis tetaplah anak gadis yang menyebalkan. Yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berpikir terbuka, tidak bisa menghargai apa yang jadi miliknya dan tentu saja konformis

Atau mungkin aku saja yang traumatis...

Anak gadis yang kian manis belum beranjak. Memandangi dengan mata besar dan senyum begitu lebar

Aku bukan apatis, aku hanya sedang bergelut dengan waktu

Masih banyak yang harus kita bicarakan, tak apa kalau tak sabar menunggu, semoga anak gadis itu mengerti kita semua berpacu dengan waktu

cepatlah sembuh anak gadis yang kian manis

6.3.10

#nowplaying Iwan Fals - Sarjana Muda


saya menemukan catatan kecil tentang percakapan yang terjadi di hari saya lulus kuliah...


Teman sebaya : selamet ya! makan makanlaaah

Teman sebaya 2 : Dapet A? Kereeeeenn!

Teman perempuan yang menilai laki-laki dari tingkat kemapanan dan materi : Terus rencana selanjutnya apa? kerja di mana? jangan di situlah gajinya kecil

Teman perempuan yang menilai laki-laki dari tingkat kemapanan dan materi 2 : Kerjanya di company gede aja langsung, jadi jaminan terus gajinya gede. Apalagi coba yang diliat selain itu?

Teman sableng : bingung gak lo jadi sarjana?

Teman agak sableng 2 : Nyantai ajalah, mau ngapain sih...

Ayah : masih ada yang perlu diperbaiki skripsi nya?

Ibu : mau slametan? undang anak yatim?

Tante : Lo bilang sama eyang gih sana, gue lagi di Bandung. Mau kado apa lo?

Kompas.com : 900.000 sarjana menganggur


14.10.09

Bangga dengan apa yang kita punya, percaya bahwa kita bisa

Other country is taking over our culture? Ask your Nike shoes and Louis Vuitton bags.

Ribuan jargon anti Malaysia mengaum keras seperti gaung "Ganjang Malaysia" pada era orde lama. Klaim Malaysia terhadap batik, keris, tari pendet, reog ponorogo dan perebutan pulau ambalad membuat rakyat Indonesia geram.

Ketika itu semangat nasionalisme tiba-tiba mengalir deras dalam darah orang Indonesia serta rasa cinta tanah air bangkit dari tidur panjang yang termanifestasikan dalam ribuan pesan twitter. Sangat lumrah bila perlawanan muncul ketika diserang.

Tapi kenapa tunggu diserang? Kenapa diserang? Saya tidak begitu bersemangat memaki malaysia dan saya pun tidak menyalahkan Malaysia sepenuhnya. Sebelum Malaysia mengambil alih budaya kita apakah terlintas di benak kita tentang batik, keris, tari pendet dan reog ponorogo? Asal-usulnya, cara membuatnya, bentuknya, rasanya? Kita pasti mengenal itu semua tapi apakah terlintas di benak kita sehari-hari?

Ketika kita sibuk mengoleksi Nike SB dan sneakers limited lainnya, ketika tidak perlu repot-repot membawakan tas Louis Vuitton pacar kita karena dia sangat bangga membawanya sendiri, ketika menjadi hedon dan berlakon seperti Kimora atau ketika kita sekedar bercengkrama sambil menikmati Burger King, Malaysia mengambil alih budaya kita lewat Discovery channel, video cara membuat keris yg bisa didapatkan di museum di sana dan dengan tagline truly asia yg seakan membuat Malaysia lebih kredibel sebagai "asia" dibanding Indonesia yang kaya akan budaya. Akuilah bahwa kita semua kebarat-baratan.
Kalau milikmu dicuri, jangan hanya menyalahkan si pencuri.

Coba renungkan, mungkin kamu memberikan kesempatan bagi si pencuri karena kamu tampak tidak begitu peduli dengan milikmu. Sama seperti Malaysia, mungkin mereka melihat celah dari ketidakpedulian kita terhadap budaya kita sendiri. So buy local, eat local, act local. Be proud.

11.7.09

what's so cool about alcohol anyway?











comeee oonnnn kids!
you surely got better things to do

Some things are just the truth

Apa yang membuat kamu begitu peduli?katanya. tidak ada yang spesifik. aku menjawab. harus ada, kalau tidak aku curiga. katanya lagi. kalau ada, ketika nanti tidak ada lagi berarti aku tidak lagi peduli. itu sungguh dangkal buatku. jawabku. ah, kamu pasti sama seperti dia yang pada akhirnya pun hidup bergantung pada materiku. katanya. hei, siapa kamu? aku tidak tertarik hidup di atas materi sampai tidak berani turun tahta sepertimu, lalu kenapa kamu pun peduli? padahal kita tidak berbagi nalar yang sama. karena sesuatu yang tidak bisa kamu jelaskan bukan?

some things are just the truth. like how the sky is blue. -with honor-

6.7.09

Iklan pilpres yg menggugah hati



Penggunaan representatif yang tepat, copywriting yang menggugah, art directing yang dramatis, kepada target audiens yang tepat. Kalau kamu dari golongan putih dan iman kamu nggak cukup kuat, mungkin tempat pemungutan suara akan menjadi tujuan kamu berikutnya.
iklan ini cukup membuat saya kaget dan sejenak berpikir, apakah calon presiden yg satu ini benar-benar... yaiyo!?

Kalau aku presi, presiden di sini
Aku akan, yaiyo iya iyo
Kalau ada orang, iseng menantangku
Aku akan, yaiyo iyaiyo
Kalau aku, jadi presiden, aku akan, dan tak akan, tapi akan, yaiyo iya iyo


-Sujiwo Tejo, Yaiyo-

7.6.09

Ketika terlalu banyak hal berpotensi membangkitkan kenangan

Dibalik bed cover yang kujadikan selimut, aku berusaha sekuat tenaga untuk tenang. aku cukup lelah, aku ingin tidur, aku harus tidur, tapi mataku segera terbuka sepersekian detik setelah terpejam. Seperti ada yang belum selesai.

Aku menarik nafas agak dalam. Setelah beberapa kali, tercium wangi yang sangat khas. Wangi yang sangat akrab dengan hidungku. Aku mencium wangi rambutnya, kemudian wangi tubuhnya yang bercampur dengan wangi pengharum pakaian pada piyamanya. Aku merasakan tanganku di punggungnya dan dahiku di lehernya ketika kepalanya mendongak ke atas dan dagunya mengapit kepalaku. Agaknya aku belum sampai pada tahap Rapid Eye Movement (REM), tahap dalam tidur di mana biasanya kita bermimpi. Tapi... Ah! aku tak tahan begini. Aku keluar dari selimut dan menyalakan lampu. lampu gelap selalu mengingatkanku padanya. Dia biasa tidur gelap gulita sedangkan aku biasa dengan lampu menyala.

Aku menyusuri jalanan sepi, tak banyak kendaraan hanya beberapa motor yang kadang tanpa lampu baik depan maupun belakang. Tiba tiba aku rindu dia menggigit gemas lenganku ketika kami berdua di dalam mobil, kemudian menunjukkan giginya yang besar seperti kelinci tapi tersusun rapi. Lalu dia bilang '' I really love to bite!'' sambil mematuk-matukkan gigi atas dan bawahnya. Wajahnya sungguh kekanak-kanakan. Biasanya aku merintih kesakitan dan memaksanya berhenti tapi aku sebenarnya sangat senang. Ah! aku tak tahan begini. Rasa yang mungkin tak akan pernah aku dapatkan lagi.

Aku mendapatkan diriku termenung menyaksikan beberapa episode terakhir serial kartun Avatar. Episode ketika Aang melakukan invasi ke kerajaan api. Katara, salah satu karakter dalam kartun avatar, ketika itu dia menggerai rambutnya yang biasanya selalu diikat. Rambut yang hitam dan panjang tampak sangat terurus, kulitnya yang coklat dan matanya yang besar. Figur yang sungguh mirip dengannya. Ah! aku tak tahan begini. Bahkan film kartun pun mengingatkanku padanya.

Aku ke meja kerjaku dan menghidupkan komputer. Deadline masih seminggu tapi tak tau lagi mau apa. Sambil menunggu sebuah situs selesai loading aku biasa membuka-buka folder tanpa tau apa yang dicari. Sampai kepada folder foto. Mataku tertuju kepada satu foto. Fotoku dan dia hanya setengah badan tanpa kepala, rambutku masih panjang kala itu. Ya, itu adalah foto aku dan dia pertama kali. aku dan dia duduk bersebelahan, yang terlihat hanya gambar pada baju kami. Ada simbol anarki di bajuku yang berdasar hitam, dan bajunya putih bergambar mata dan bibir berwarna merah. entah kenapa aku sangat menyukai foto itu. Kami berdua tampak sangat kontras, dia yang terkesan manis dan aku yang dia sebut dengan berandalan, tapi seperti saling menyayangi. Foto pertama kami itu diambil baru setelah 3 bulan kami bersama, saat-saat di mana aku baru benar-benar berani menggenggam tangannya. Saat-saat itu adalah awal kemesraan kami.

Aku merasakan seseorang mencengkram leherku dari samping. Tapi aku tidak tersentak karena saat itu pula aku menyadari aku tidak menutup pintu dan aku tahu itu tangan seorang teman. Dia bilang "maaannn...you got to stop!" lalu dia mengangkat tangannya ke depan wajahku. Aku melihat air mataku yang menetes di pipi jatuh ke tangannya. Dengan sedikit malu suaraku parau "I miss her a lot..."

20.5.09

Aku mapan aku kaya

Ingat film si doel anak sekolahan? Babe Sabeni yang diperankan oleh almarhum Benyamin S sungguh bangga ketika anaknya lulus jadi insinyur. Di pekarangan rumahnya, tepatnya di depan oplet, babe berjingkrak kegirangan sambil menyerukan “anak gue lulus jadi tukang insinyuurrr..” yeap, tukang insinyur...

Babe sabeni itu orang dulu, orang betawi tulen yang nggak mengenyam bangku sekolahan (nggak mendiskreditkan orang betawi loh ya, ini according to the tv show), nggak pernah kerja kantoran, tinggalnya di kampung, nggak pernah ke mall… bahkan ada dalam satu episode babe piknik di tengah tengah lapangan bola… bener bener nggak ngerti apa-apa dia…

mungkin babe sendiri juga nggak ngerti apa sih sebenernya insinyur itu. Disiplin ilmu apa sih yang bisa membuat seseorang bertitel insinyur. Atau, insinyur itu sebenernya ngapain sih.. si babe pokoknya taunya anaknya sekolah tinggi-tinggi, mahasiswa, terus lulus jadi tukang insinyur, trus kerja kantoran.. mantep deh pokoknya, lain sama dia yang nggak sekolah.

Insinyur, dokter, tentara, polisi, pengacara, pejabat, pebisnis mungkin predikat-predikat yang juga sungguh keren di mata babe. Pokoknya kalau udah menyandang predikat tersebut, pasti mapan setengah mati. Di pikiran babe, masih tersisa pandangan-pandangan orang jaman dulu.

Coba liat profesi-profesi yang saya sebutkan tadi, samain sama pendapat kakek nenek kalian, kurang lebihnya akan sama. Babe sama kakek nenek kita sama-sama hidup di jaman Belanda, dan profesi yang disandang bos-bos Belanda jaman dulu ya profesi-profesi di atas itu. Pernah nggak kalian denger cerita atau baca di buku sejarah, orang Belanda hebat pas jaman penjajahan dulu yang kerjanya desainer grafis? Atau jurnalis? Sutradara? Public relation officer? Programmer? Film publicist? Account executive? Nggak ada kan.. karena memang belum ada... mungkin ilmu dasarnya ada tapi masih sangat general belum se-spesifik sekarang.

Tetapi, kakek nenek bapak ibu om tante bahkan teman teman sebaya kita masih banyak yang pikirannya sama kaya babe. Padahal Belanda udah pergi ke mana tau. Coba lihat sekeliling, Tanya beberapa teman kenapa mereka memilih jurusan studinya. Pasti ada aja yang jawab “supaya jadi pengacara, pengacara kan fee nya gede, duitnya banyak, aman dong gue mapan” atau “Gue agak bingung sih waktu milih, tapi akhirnya itu aja abis kayanya yang paling normal dan manjanjikan ya itu.” Atau “yaa mau teknik tapi gua anak IPS, mau seni gua nggak nyeni, mau dokter... ya kali, yang ada mati pasien di tangan gue. Kayanya paling gampang ya itu. Lagian duitnya juga jelas kayanya” atau “gua sih sebenernya pengen banget seni lukis gitu, tapi nyokap nggak mau. Katanya seniman mah bukan pekerjaan, ntar gue cari duitnya susah katanya. Yah, agak bimbang sih. tapi takut juga digituin”

Setiap orang punya kegemaran, punya keinginan, punya ambisi, punya mimpi. Dan sistem kemapanan budaya orang kita telah memenggal mimpi anak-anak muda yang gossipnya penerus bangsa. Penerus bangsa yang dipaksa bangun dari mimpinya untuk menghidupi dirinya dalam konformitas dengan perspektif usang yang entah siapa yang bikin. Anak-anak muda juga banyak yang sepertinya acuh tak acuh terhadap itu… take it for granted.. nggak ada perlawanan apa-apa.. nggak skeptis.

Padahal sekarang banyak sekali jenis-jenis pekerjaan dan disiplin ilmu yang baru. Entah benar-benar baru atau perkembangan dari ilmu yang lama. Kemarin sempet baca majalah, ada salah satu perempuan usia 20-an yang profesinya “freelance stylish for political campaign” saya nggak tau job descriptionnya apa.. berasal dari ilmu apa pokoknya itu baru dan itu sebuah profesi. Dan itu menarik banget.

Tapi coba tengok profesi dan bidang baru mulai dari yang sudah agak umum seperti desainer, jurnalis, fotografer, programmer, brand management, copywriter, pelukis, e-commerce, pematung sampai si stylish for political campaign itu. Apa mereka seterkenal dan dipersepsikan menjamin akan sebuah kemapanan seperti profesi-profesi bawaan feodal itu?

Pemuda pemudi yang akhirnya menjadi pengacara, dokter, aparat karena memang dia tidak punya pilihan lain. Nggak punya keinginan dari dalam hati. Karena lingkungannya sudah membentuk mindset bahwa profesi semacam itulah yang bisa menjamin kemapanan mereka. Mereka udah benar-benar dibentuk menjadi robot-robot penggerak industri kapital yang siap mempertahankan standarisasi kemapanan orang dulu. Atau mungkin mereka mempunyai impian menjadi pelukis, penari, guru tapi tidak dijalani karena tidak masuk dalam standarisasi kemapanan. Kemapanan jadi begitu mengekang. Pantes banyak yang stress. Pantes caleg pada stress. Pantes orang pada korupsi… orang gak punya mimpi, nggak punya ambisi, pokoknya kaya, mapan, tajir aja pokoknya.

Seseorang bilang sama saya “you got to see the world the way it is… buat apa lo mikir aneh-aneh. Buat apa lo pengen aneh-aneh. Apa yang ada, ya itu berarti yang ada… ikutin aja... jalanin aja… kalo nggak ngikutin, emang lo bisa kaya? Bisa mapan? Pantes lo nggak punya duit!.”

Yeah, abis dunia yang saya liat kadang nggak bisa kasih apa yang saya mau sih… selama saya masih punya mimpi, punya ambisi, punya keinginan untuk tau macem-macem, bisa belajar boleh dong saya nggak mau liat, nggak mau ngikut apa yang udah disediain sama dunia. Toh hidup masyarakat kita kan ya masyarakatnya juga yang bikin… kalo yang bikin aja apatis, ya basi kalii… well, kamu sendiri punya mimpi nggak?

9.5.09

Hati yang militan, otak yang diplomatis

ketika hati bicara, otak membantah. Tapi hati selalu lebih kuat karena tidak seperti otak, hati belum terkontaminasi pengetahuan dan pengalaman yang akhirnya membentuk konsepsi tertentu. Mengenai baik dan buruk, benar dan salah, untung dan rugi

Hati bergerak menembus batas. Gengsi, perih, malu, akal sehat menurut standarisasi sehat yang diamini dunia. Tidak seperti otak yang mengenal berpolitik, cari celah, tarik ulur, perhitungan matematis rasional, opini populer.

Sebuah pamflet demonstrasi para anarkis yang mengkritisi demokrasi bertuliskan "whoever you vote for, we are ungovernable" Itulah hati, tidak dapat diperintah selayaknya para anarkis. karena hati tidak mengenal perintah untuk memihak pada benar atau salah, baik atau buruk, untung atau rugi. Hati hanya mengerti berbagi

Seseorang berkata, "saya tidak akan memberikan hati saya sepenuhnya padamu. Karena ketika nanti sesuatu yang buruk terjadi pada kita, aku tidak bisa mengambilnya kembali."

Sekarang aku pun berpikir begitu, kali ini hati yang akan merugi. Oh, tapi tidak. Hati tidak kenal untung rugi, hati hanya ingin memuaskan dirinya sendiri.

Ah, kalau begitu yang kita butuhkan adalah intuisi. Sinergi antara pikiran dan perasaan, koalisi antara otak dan hati, pertautan antara pengetahuan dan emosi.

Saya telah memberikan hati sepenuhnya. kini otak tak berfungsi dan hati tak bisa kembali. Tubuh ini yang akhirnya jadi korban. Tubuh ini yang akhirnya kelelahan.

Seandainya aku memberikan sepenuhnya dan kamu memberikan sepenuhnya. Maka ini adalah intuisi. Komitmen untuk berbagi. Karena hati hanya mengenal berbagi

26.3.09

Babes on the beach

nyyaahh.. you can't find some ready-to-suck-hot-bikini-babes-on-the-beach picture in this post..

Well, i was on a short trip to anyer (or carita) with few friends from college that day. I met these two little girls, Kartika and.. ah shit i forgot.. oh yea, mirna.. Kartika and mirna.

Di pantai sekitar cottage, mereka berjualan shampoo sachet-an dan plastik untuk baju kotor para penyewa cottage. Plastik baju kotor, sebuah barang yang agak aneh bila dijadikan komoditi tapi sangat sangat diperlukan oleh penyewa cottage di sana. Pasti banyak banget orang yang lupa bawa plastik baju kotor atau buat bungkus sendal yang udah penuh pasir. The right product on the right place. Bisa-bisa mereka nggak mau sekolah lagi gara-gara dagangannya laku. Yeap, another picture of low class citizens yang harus bekerja membantu menjaga dapur ibu tetap ngebul.


Setiap saya keliling pantai dengan kamera, entah kenapa mereka selalu ada, terus minta foto. "bang angga foto dong.. bang angga foto dong.." dan mereka bergaya centil nan sexy mencoba menyaingi Aura Kasih.

Abis difoto terus ngeliat hasilnya udah bikin mereka senang ketawa cekakak cekikik terus minta foto lagi. Mereka nggak minta dicetak apalagi minta di tag di facebook...

senangnya bikin anak pantai senang..

9.3.09

Sekolah Paud Bintang


majalah segaris, 1 maret 2009
(www.majalahsegaris.com)

Garasi rumah adalah ruang kelas dan halaman rumah adalah taman bermain mereka. Sekolah Paud Bintang memberikan memberikan fasilitas kepada anak-anak kurang mampu dengan bimbingan belajar dan bermain.


Pada awalnya sekolah Paud Bintang merupakan program kelurahan Cilandak timur untuk memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak warga sekitar yang kurang mampu. Ibu Anna, psikolog yang sudah tidak lagi mempuyai anak kecil kini kebanjiran anak-anak setiap harinya. Di rumahnya, kini tak hanya anak-anak dari warga sekitar, tapi bahkan anak-anak dari para pemulung yang beroperasi di sekitar rumahnya pun menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Paud Bintang.

Bersama dengan Ibu Haryadi dan Mbak lily, setiap harinya mereka menjadi guru bagi anak-anak ini yang kelihatan sangat antusias dalam belajar meskipun keadaan sekolah mereka tidaklah seperti sekolah pada umumnya. Ibu Anna, Ibu Haryadi serta Mbak Lily menunjukkan semangat untuk mencerdaskan anak usia dini tidak boleh terbentur dengan sistem pendidikan yang kian rumit dan mahal.

Untuk Donasi hubungi :
BKB Paud Bintang
RT 05/07 Kompleks Bulog
Kelurahan Cilandak Timur
Jakarta Selatan
Ibu Anna : 021-780 10 66

Antara ijazah palsu, ketombe, dan Jean Cassegrain

Malam ini ada perbincangan dengan seorang teman di messenger, seorang teman yang jarang bertemu, tidak cukup mengenal, tapi dia sangat ramah dan selalu tersenyum lebar. sangat ceria. perbincangan mulai seru saat saya menanyakan mengenai dia yang ingin membuat ijazah SMA palsu.

teman : Hallo

Btskhyl : oiii

teman : siapa?

Btskhyl : apanya?

teman : elo siapa, gua nggak apal semuanya nih

Btskhyl : angga iniii

teman : oohh haii, kapan kita kumpul-kumpul?

Btskhyl : every weekend i'm ready laah

teman : sipp

Btskhyl : gimana ijazah lo? jadi?

teman : gak tau nih, nggak dibikinin kayanya. kalo ada kerjaan kabar-kabari doong

Btskhyl : lo buat ngelamar-lamar gitu ya? sipp dah kalo ada

teman : iya nih

Btskhyl : eh, kalo lo ngelamar-lamar gitu si X diajak doong

teman : yaa kerjanya di tempat yang pendapatannya kecil, soalnya takut ketauan ijazah palsu

Btskhyl : ya gpp, abis dia suka mood-moodan gitu siih

teman : heh, dia mah udah cukup kali. kalo gua udah stress nihh

Btskhyl : cukup emang ga bisa abis. bisa kaaan. emang lo rencana gimana sekarang?

teman : mati. kalo gak dosa

Btskhyl : halaahhh. kok patah semangat sih, lo kan orang paling semangat di dunia heheheha

teman: iya tau nih ngga, gua lagi kepikiran nyokap yang di (salah satu daerah di jawa barat), pengen ke sana tapi mesti punya X juta buat bayar utang

Btskhyl : siapa yang punya utang, elo? apa nyokap?

teman : gue utang ke nyokap

Btskhyl : jadi lo ga mau ke sana karena punya utang gitu?

teman : iya, waktu itu pinjem X juta pas mau pindah ke sini tinggal sama keluarga baru, buat usaha. tapi uangnya abis ga tau ke mana

(teman saya ini anak jalanan sejati, nggak punya rmah dan keluarga yang tetap. waktu pertama kali kenal aja saya tanya "nyokap bokap lo tinggalnya nggak sama elo? trus dia jawab "wah! kalo nyokap sih gua ada banyak!" terus saya ngakak keheranan)

Btskhyl : trus dia nagih gitu?

teman : sodara2nya. karena gua bukan kandung. tau deh nih, makanya mau cari uang melalui kerja

Btskhyl : ooh iya iya

teman : off

Btskhyl : ha? oh. oke deh, eh mau ke mana lagi lo?

tiba tiba si teman offline

sempat terlintas untuk memberikan pinjaman uang tapa deadline, tapi takut disangka menghina...

menurut kacamata saya dia orang yang sangat independen, sehingga tidak perlu pusing-pusing pikir uang buat ini itu, tinggalnya saja di rumah teman-temannya, saya sendiri nggak begitu tahu bagaimana sistematika hidupnya dia sehari-hari. yang jelas dia masih survive sampai sekarang. tapi ternyata dia sedang kebingungan mencari uang untuk bayar utang kepada salah satu ibunya.

saya jadi berpikir. Pertama, saya masih lebih beruntung punya ijazah asli, ibu yang hanya satu, rumah sendiri, dan tabungan untuk hadiah ulang tahun pacar saya. Dia yang selalu tersenyum, yang sepertinya tidak pernah mengeluh kecuali soal ketombe saat saya tanya kenapa dia memangkas habis rambutnya, ternyata sekarang berbingung-bingung mencari kerja untuk sejumlah uang untuk bayar utang kepada salah satu ibunya, sampai mau mati kalau nggak dosa. sedang saya menyimpan sejumlah uang untuk sebuah longchamp yang katanya paling murah. merasa bersalah... sial.

Seandainya nggak ada hutang... seandainya Jean Cassegrain tidak mendirikan longchamp...

Budi dan Tiran

Si tiran memaksa untuk berbaris rapi mengikuti.
Menyilang lengan di dada tak peduli menginjak budi yang tak mampu lagi berdiri.
Si tiran lahir dalam balutan bedong egoisme membesarkan embrio yang tak kenal hati selain miliknya sendiri.
Kemenangan telah terkepal, budi dan revolusi bak pemimpi dan impian yang terpisah jarak sejak tangisan pertama.
Lensa mata si tiran akan kondisi berbalik arah dengan tatapan mata budi, mengais belai lembut karena tak ada lagi bisa menuai benih padi.
Si tiran mencengkram budi sampai ke dalam hati, membelenggu dengan senyum manis dan seperti janji laki-laki untuk selalu menari.
Membusungkan dada berarti kiamat bagi budi.
tamparan keras membinasakan seketika nyali untuk mematok harga tinggi.
Si tiran baru blajar berdiri, budi sudah mengerti berbagi.
Belajar memeluk individualisme berkuasa sedangkan mengerti karena hidup bersama.
Budi merangkak dalam air matanya sendiri mencari nyali untuk berdiri.
Menantang mengembalikan kesetaraan, menantang nada tinggi tanpa retorika sama sekali.
Budi diam menantang Si Tiran merindukan anggukan kepala.
Egois mungkin hanya sepatah atom dari sifat sang Tiran, tapi menjadi viagra untuk membuat sekelas dengan gravitasi.
Fluktuasi suasana hati menjadi orbit Budi bagai planet mengitari matahari.
Menantang gravitasi berarti tidak memijak bumi.
Menolak mentah genggaman tangan Si Tiran berarti hilang kendali.
Walau bahwa setiap diri adalah yang berhak atas kendali.
Bajingan! Budi masih terbuai.

Fast food, faster than nutrition

Pernah ada seorang teman yang sempat mengklaim dirnya pembenci fast food. Menurutnya fast food merupakan senjata industri-industri kapitalis yang notabene adalah the most hated buatnya, ditambah lagi keinginan besarnya untuk menjadi vegetarian karena sepertiya dia terlalu peduli dengan keberadaan makhluk hidup kelas kedua di bumi yaitu hewan tapi tetap masih tidak bisa melepaskan dirinya dari godaan sate kambing dan sop buntut. Entah apa sekarang dia masih se-politis itu terhadap fast food. Saya lama tidak bertemu lagi dengannya.
Teman tersebut mengeluh kelaparan di perjalanan pulang pukul setengah tiga pagi. Saya bilang tidak ada yang bisa dimakan malam-malam begini, tidak ada restoran atau warteg yang buka. Saya tidak menawarkan fast food 24 jam karena takut dia tidak suka. Entah setan apa yang menggodanya atau memang suara tangisan perut sudah tidak bisa ditolerir lagi sampai akhirnya dia meminta saya untuk mampir di salah satu resoran fast food 24 jam dan segera memesan paket hamburger dan minuman soda dan kentang goreng.
Begitu juga dengan teman saya yang sangat gemuk. Jarak antara rumah dan kampusnya lumayan jauh. Sehingga dia tidak punya waktu banyak untuk makan pagi dan makan sore sepulang kuliah untuk menghindari macet dan terlambat datang dan pulang. Untuk mengatasi nafsu makannya yang hampir di luar batas kewajaran itulah fast food berperan besar dalam hidupnya. Setiap pagi dia mampir di restoran fast food lagi-lagi melalui fasilitas drive thru untuk sarapan. Begitu juga setiap sore saat pulang kuliah. Saya sempat bertanya mengenai ketergantungannya dengan fast food, dia bilang ”ini yang paling cepat, lagipula makanan enak nggak ada yang sejalan antara rumah dan kampus.” padahal dia pernah bilang bahwa dia pernah mengalami penurunan berat badan sebesar 7 kilogram saat hampir dua bulan tidak menyentuh fast food sama sekali. Sebuah prestasi buat temanku si gemuk itu.
Cerita teman tadi mungkin menjadi bukti bahwa kemudahan mendapatkan makanan cepat saji dapat mengatasi masalah perut seseorang dalam pola hidup masyarakat yang serba urgent. Bahkan untuk seseorang yang bisa dibilang anti terhadap fast food sekalipun.
Lalu apa sebenarnya kecenderungan orang memilih makan makanan cepat saji? Apa hanya pola hidup masyarakat yang tidak lagi teratur sehingga semuanya harus cepat dan spontan kah? Atau kehidupan masyarakat kota yang super sibuk kah? Atau makanan cepat saji memang enak? Lalu apa dampaknya terhadap kesehatan? Apakah makanan cepat saji baik dikonsumsi terus menerus? Bagaimana dengan dampak terhadap perkembangan bisnis kuliner di kota besar?
Coba kita coret kecenderungan dan dampak-dampaknya tapi tinggalkan kesehatan.
Pada dasarnya fast food mungkin memenuhi standar-standar kesehatan. Kebersihan dalam pembuatan dan penyimpanan seharusnya sudah diawasi melalui standar-standar internasional tersendiri. Selain itu daging yang dipilihpun adalah daging yang konon didatangkan langsung dari negaranya sana dan memang daging dari hewan yang dipelihara secara khusus untuk dikonsumsi. Jadi tidak salah kalau protein yang dimiliki sebuah burger atau fried chicken adalah tinggi.
Tapi tidak hanya protein, lemak yang dikandung juga tak kalah banyak. Menurut data dari Institut Pertanian Bogor, dalam sebuah fried chicken mengandung sekitar 290 – 400 kkal per potongnya tergantung dari ukuran dan berat setiap ayam.
Bukan hanya ayam saja yang dikonsumsi dalam sekali mengunjungi restoran fast food, kentang goreng adalah salah satu pasangan sejati fried chicken. Dengan berat 80-100 gram, kentang goreng memiliki kalori sebesar 180-400 kalori.
Di dalam tubuh, lemak akan mengalami beberapa proses, salah satunya adalah proses auto-oksidasi yang mempercepat peningkatan kadar radikal bebas di dalam tubuh. Radikal-radikal bebas tersebut membuktikan bawa namanya memang tepat. Dengan bebas dan radikal, mereka menyerang berbagai senyawa tubuh yang akhirnya memicu timbulnya berbagai penyakit seperti, jantung koroner, pengerasan pembuluh darah, stroke dan kanker.
Paling tidak timbunan lemak, kalori dan kolesterol akan berakhir pada penyakit musuh besar para wanita yang mendewakan keseksian tubuh dan juga bagi teman saya si gemuk itu. Kegemukan.
Kegemukan atau obesitas mungkin diperangi bukan hanya wanita tapi juga gender lainnya karena kegemukan bisa belanjut kepada hipertensi, penyempitan pembluh darah dan gangguan jantung. Bayangkan juga bila anak-anak yang mengalami penyakit-penyakit di atas akibat kegemukan terlalu banyak mengkonsumsi makanan cepat saja karena supersibuknya orangtua mereka berkarir.
Disamping membludaknya kalori, dalam makanan cept saji juga terdapat kandungan gula yang tinggi. Terutama gula buatan yang menyebabkan penayakit mulai dari kerusakan gigi, obesitas sampai diabetes. Konsumsi gula yang berlebihan juga akan meningkatkan kadar gula dalam darah yang menyebabkan tubuh memproduksi insulin yang lebih banyak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hal tesebut menyebabkan yang disebut dengan sindrom kadar gua dalam darah, yang menyebabkan badan menjadi lesu, sulit konsentrasi, dan mudah marah. Dalam penelitian tersebut sempat disebutkan hubungannya dengan perilaku kekerasan. Karena peningkatan kadar gula dalam darah diikuti dengan peningkatan produksi hormon adrenalin, pada akhirnya mendorong sesorang untuk bersikap agresif, sedangkan kadar gula paling banyak ditemukan dalam minuman soda, yang tak lain adalah minuman wajib bagi para pecinta fast food atau paling tidak bagi orang yang sedang menikmati satu paket fast food.
Beberapa fast food juga ternyata memiliki kandungan zat timah, alumunium, dan tembaga yang bisa menyerang fungsi otak sehingga kecerdasaan seseorang bisa menurun karena kekurangan gizi.
Bisa jadi fast food lah yang menyebabkan tawuran pelajar, tawuran antar warga, antar geng, ataupun kemarahan beberapa ormas yang sedang marak saat ini. Pada saat itu tentunya emosi yang berkuasa atas tubuh bukan otak.
Bagaimana dengan junk food? Apakah sama arti dengan fast food?. Yang tergolong junk food adalah makanan yang kandungan nutrisiya terbatas. Kandungan gula, garam, lemak lemak dan kalorinya tinggi tapi sedikit gizi.
Dan ternyata tidak hanya makanan dari restoran cepat saji saja yang diklaim sebagai makanan cepat dan berbahaya. Keripik kentang keju, biskuit gurih dan manis, semua dessert dan cake yang manis dan menggoda, permen kegemaran anak-anak, ayam goreng yang digoreng sendiri di rumah dan mie ayam bakso yang berlemak pun adalah junk food.
Beberapa negara sudah mulai menyatakan perang terhadap makanan cepat saji. Bahkan iklan fast food pun sudah mulai dibatasi. Mungki peraturan seperti itu juga baik bila diterapkan di negara ini mengingat bertaburannya restoran-restoran fast food di penjuru kota, mobilitas masyarakat yang sangat tinggi sehingga makanan rumahan seperti gado-gado dan semur jengkol sudah mulai ditinggalkan dan banyaknya orang dewasa bahkan anak-anak mengalami kegemukan.
Lalu harus makan apa kalau semuanya terasa begitu sulit untuk dimakan?. Tidak pelu menghitung jumlah kalori, lemak, kolesterol, gula dan zat besi yang tekandung dalam setiap hidangan. Kalau anda adalah omnivora seperti saya, tidak akan ada banyak pilihan karena menghitung sama saja memperkecil jumlah hidangan favorit. Sedangkan usus semakin mengunyah tubuhnya sendiri.
Makan saja apa yang inigin dimakan. Bahkan fast food sekalipun. Tapi ingat dalam hidup ini semua itu harus seimbang. Atau setidaknya sesuai porsinya. Seperti pendapatan dan pengeluaran, istri pertama dan istri kedua dan tentunya fast food dan nasi rames.
Di amerika serikat masalah kegemukan telah menjadi masalah nasional yang serius, karena banyaknya angka kematian akibat obesitas. Kalau itu terjadi di negara kita, siapa yang akan kita salahkan? Si kolonel? Si badut? Penjual ”fred chiken” pinggiran? Atau sebagian masyarakat yang tidak bisa menyisakan waktu untuk makan makanan bergizi?. Urusan perut memang menyebalkan.